PELATIHAN PENATALAKSANAAN KEKERASAN DAN PENELANTARAN ANAK (CAN)

November 16, 2007

Kekerasan dan penelantaran terhadap anak atau Child Abuse and neglect merupakan tindak kekerasan baik kekerasan fisik, emosional, seksual maupun penelantaran pada anak. Menurut undang-undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, yang dimaksud dengan anak adalah sejak janin dalam kandungan sampai usia 18 tahun. Belum ada data yang akurat tentang kekerasan dan pelanggaran hak-hak anak di Indonesia, namun dari hasil kajian oleh UNICEF tahun 2003 menunjukkan adanya berbagai bentuk kasus kekerasan terhadap anak, baik yang bersifat fisik seperti ditempeleng, dipukul dengan benda keras, disundut dengan rokok, bahkan ada yang dicekik. Kasus tersebut terjadi di rumah maupun di Sekolah, sebagai hukuman bagi anak ataupun akibat luapan emosi orang tuanya.

Selain itu ditemukan pula kekerasan seksual seperti perkosaan, penelantaran anak, misalnya tidak diberi makan siang, dan lain-lainnya. Melalui media cetak dan elektronik banyak diberikan berbagai kasus kekerasan terhadap anak. Adanya gambaran kasus-kasus tersebut merupakan fenomena gunung es yang mengidentifikasikan bahwa masalah kekerasan dan penelantaran anak di Indonesia sudah sepatutnya menjadi perhatian semua pihak terkait secara serius.

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak bertujuan untuk menjamin terpanuhinya hak-hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan deskriminasi, demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia dan sejahtera.

Terkait dengan Undang-Undang tersebut, salah satu dampak kekerasan dan penelantaran anak adalah menyangkut masalah kesehatannya baik fisik maupun psikologis yang tentu saja mengganggu proses tumbuh kembang dan kelangsungan hidup anak. Departemen kesehatan bersama dengan UNICEF dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) telah menyususn Buku Pedoman Deteksi Dini, Pelaopan dan Rujukan Kasus Kekerasan dan Penelantaran Anak bagi Tenaga Kesehatan. Tenaga Kesehatan seringkali menjadi pihak pertama yang menemukan kasus-kasus Child abuse and neglect (CAN), baik pada saat ia melakukan prakteknya di institusi kesehatan, di tempat praktek pribadi atau juga pada saat melakukan kunjungan lapangan. Oleh karena itu tenaga kesehatan perlu dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan dalam penatalaksanaan korban kekerasan termasuk sistem rujukan dan pelaporannya melalui suatu pelatihan yang diselenggarakan secara berjenjang.

Tujuan dilaksanakannya pelatihan ini ialah dipahaminya Pedoman Deteksi Dini, Palporan dan Rujukan Kasus Kekerasan dan Penelantaran Anak bagi tenaga kesehatan dan diperolehnya Penanggung jawab pelatihan dan fasilitator yang mampu menyelenggarakan dan menfasilitasi pelatihan Deteksi Dini, Pelaporan dan Rujukan Kasus Kekerasan dan Penelantaran Anak.

Peserta Pelatihan Penatalaksanaan Kekerasan dan Penelantaran Anak (CAN) Tingkat Propinsi Sulawesi Tengah sebanyak 43 (empat puluh tiga) orang yang terdiri dari Peserta Propinsi sebanyak 10 orang yaitu 1 (satu) orang dokter dari RS Undata Palu, 1 (satu) orang dokter dari RS Anutapura Palu, 1 (satu) orang dokter dari RS Madani Palu, 1 (satu) orang dokter dari RS Wirabuana, 1 (satu) orang dokter dari RS Bhayangkara, 1 (satu) orang dari LPA Propinsi Sulawesi Tengah, 4 (tiga) orang staf dari Dinas Kesehatan Prop. Sulteng.

Peserta Kota Palu sebanyak 4 (empat) orang masing-masing dari 2 (dua) Puskesmas yang dipilih Kepala Dinas Kesehatan Kota Palu, yaitu 2 (dua) orang Kepala Puskesmas atau Dokter Umum dilingkungan puskesman, 2 (dua) orang Bidan atau Perawat Pengelola yang membidangi Kesehatan Keluarga Ibu dan Anak di lingkungan puskesmas.

Peserta Kabupaten sebanyak 18 (delapan belas) orang terdiri dari masing-masing 2 (dua) orang dari 9 (sembilan) kabupaten yaitu 1 (satu) orang Kepala Puskesmas atau Dokter Umum dilingkungan puskesmas yang telah ditunjuk langsung oleh kepala Dinas Kabupaten, 1 (satu) orang Bidan/Perawat pengelola yang membidangi Kesehatan Keluarga Ibu dan Anak yang di lingkungan Puskesmas

Fasilitator dalam pelatihan ini diantaranya, dr. Penina Regina Bebena, MPHM (Kasubdit Bina Kesehatan Anak Khusus), dr. Suldiah, Sp. A (Rumah Sakit Undata Palu), dr. Fery Baan, M. Kes. (Dinas Kesehatan Prop. Sulteng), Sofyan F. Lembah, SH, MH. (Ketua LPA Prop. Sulteng), Delly Londah, SKM, M. Kes. (Dinas Kesehatan Prop. Sulteng), Margaretha Lantang, SKM (Widyaiswara Bapelkes Palu).

Menurut rencana kegiatan Pelatihan Penatalaksanaan Kekerasan dan Penelantaran Anak (CAN) tingkat Propinsi Sulawesi Tengah dilaksanakan pada tanggal 21 s/d. 24 Nopember 2007, bertempat Gedung pertemuan Lokalitbang SLPV Desa Labuan Panimba Kecamatan Labuan Kabupaten Donggala.

 

 

Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut anda dapat menghubungi :
Seksi Kesehatan Ibu dan Anak
Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah Jalan Undata Palu atau via email kami


PERTEMUAN PENINGKATAN KEMAMPUAN PENGOLAHAN DATA KESEHATAN IBU DAN ANAK TAHUN 2007 TINGKAT PROPINSI SULAWESI TENGAH

November 16, 2007

Angka Kematian Ibu (AKI) dan Anak (AKB) masih tinggi yaitu, 307 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB 35/1000 kh. Target yang ditetapkan untuk dicapai pada RPJM tahun 2009 untuk AKI adalah 226 per 100.000 kh dan AKB 26/1000 kh. Dengan demikian target tersebut merupakan tantangan yang cukup berat bagi program KIA.

Sebagaian besar penyebab kematian ibu secara tidak langsung (menurut survei Kesehatan Rumah Tangga 2001 sebesar 90%) adalah komplikasi yang terjadi pada saat persalinan dan segera setelah bersalin. Penyebab tersebut dikenal dengan Trias Klasik yaitu Pendarahan (28%), eklampsia (24%) dan infeksi (11%). Sedangkan penyebab tidak langsungnya antara lain adalah ibu hamil menderita Kurang Energi Kronis (KEK) 37%, anemia (HB kurang dari 11 gr%) 40%. Kejadian anameia pada ibu hamil ini akan meningkatkan resiko terjadinya kematian ibu dibandingkan dengan ibu yang tidak anemia.

Beberapa kegiatan dalam meningkatkan upaya percepatan penurunan AKI telah diupayakan antara lain melalui peningkatan kualitas pelayanan dengan melakukan pelatihan klinis bagi pemberi pelayanan kebidanan di lapangan. Kegiatan ini merupakan implementasi dari pemenuhan terwujudnya 3 pesan kunci Making Pregnancy Safer yaitu:

  1. Setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih
  2. Setiap komplikasi obstetri dan neonatal mendapat pelayanan yang adekuat, dan
  3. Setiap wanita usia subur mempunyai akses terhadap pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan dan penanganan komplikasi keguguran.

Sehubungan dengan penerapan system desentralisasi, maka pelaksanaan strategi MPS ng didaerah pun diharapkan dapat lebih terarah dan sesuai dengan permasalahan setempat. Dengan adanya variasi anatara daerah dalam hal demografi dan geografi, maka kegaiatan dalam program kesehatan ibu dan Anak (KIA) akan berbeda pula. Namun agar pelaksanaan Program KIA dapat berjalan lancer, aspek peningkatan mutu pelayanan program KIA puskesmas maupun di tingkat Kabaupaten/Kota. Peningkatan mutu program KIA juga dinilai dari besarnya cakupan program di masing-masing wilayah kerja.

Untuk itu, perlu di pantau secara terus menerus besarnya cakupan pelayanan KIA disuatu wilayah kerja, agar diperoleh gambaran yang jelas mengenai kelompok mana dalam wilayah kerja tersebut yang paling rawan. Dengan diketahuinya lokasi rewan kesehatan ibu dan anak, maka wilayah kerja tersebut dapat lebih diperhatikan dan dicarikan pemecahan masalahnya. Untuk memantau cakupan pelayanan KIA tersebut dikembangakan system Pemantau Wilayah Setempat (PWS-KIA)

Tujuan dilaksanakannya pertemuan ini untuk meningkatnya pemantauan cakupan dan pelayanan untuk setiap wilayah kerja secara terus-menerus dalam rangka meningkatkan jangkauan dan mutu pelayanan. Secara khusus pertemuan ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang masalah-masalah yang menghambat Pelaporan data dari Kabupaten/Kota, memantau cakupan KIA yang dipilih sebagai indikator, secara teratur (bulanan) dan terus menerus untuk tiap wilayah, menilai kesenjangan anatara target yang ditetapkan dan pencapaian sebenarnya untuk tiap Kabupaten/kota, menentukan urutan wilayah prioritas yang akan ditangani srcara insentif berdasarkan besarnya kesenjangan anatara target dan pencapaian, merencanakan tindak-lanjut dengan menggunakan sumber daya yang tersedia dan yang dapat digali.

Hasil yang diharapkan setelah kegiatan ini adalah :

  1. Komitmen memantapkan dan menjamin pelaksanaan Program Kesehatan Ibu dan Anak, melalui implementasi perbaikan pelaporan data dari Kabupaten/kota.
  2. Para pemegang kebijakan dan pengelola program di tingkat kabupaten memperoleh pemahaman mengenai garis besar rangkaian kegiatan Pengolahan data dan Surveilans KIA yang akan dilaksanakan.

Model pertemuan ini berupa Presentasi General Overview rangkaian kegiatan yang akan dilakukan serta diskusi kelompok per Kabupaten/Kota, presentasi hasil PWS-KIA Kabupaten kota dan penyajian hasil diskusi.

Menurut rencana pertemuan ini dilaksanan tanggal 21 s.d 24 November 2007 bertempat Gedung Pertemuan Lokalitbang SLPV Desa Labuan – Panimba Kec. Labuan Kabupaten Donggala.

Peserta pertemuan Peningkatan Kemampuan Tim Kabupaten / Kota dalam Pertemuan Peningkatan pengolahan Data sejumlah 30 (tiga puluh) orang, terdiri dari :

  1. Peserta dari Kabupaten/Kota 20 (dua puluh) orang dari 10 Kabupaten/Kota, yang masing-masing terdiri dari 1 (satu) orang kepala Subdin yang membidangi Kesehatan Ibu dan Anak, 1 (satu) orang Pengelola Program Kesehatan ibu dan Anak, Peserta Propinsi 10 ( sepuluh ) orang dari Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Tengah, dan instansi terkait.
  2. Narasumber berasal dari Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Tengah 8 (delapan) orang.

Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut anda dapat menghubungi :
Seksi Kesehatan Ibu dan Anak
Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah Jalan Undata Palu atau via email kami.


Hello world!

November 14, 2007

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.